Pahlawan…secara bahasa berasal dari bahasa Sansekreta yaitu dari Pahla atau Pala yaitu nama buah yang bijinya biasa saya gunakan untuk dioleskan badan hakim, anak saya jika sedang sulit tidur. Asal Ceritanya nee.. dahulu jika ada orang yang berjasa kepada kerajaan maka dihadiahi buah Pala. Nah akhirnya muncullah pahala dan pahlawan, yang maknanya jika pahala adalah hadiah yg diberikan oleh sang raja (wujud pemberiannya), sedangkan orangnya adalah pahlawan.
Dalam konteks bulan Nopember sudah kita kenal bahwa tanggal 10 Nopember sering kita kenal sebagai hari pahlawan, asal mulanya sekitar 63 tahun yang lalu ada kejadian di surabaya, yaitu pertempuran dengan Jendral Mallaby seorang komandan Inggris yang menduduki kota Surabaya dengan para pejuang Indonesia. Akhirnya kota surabaya dapat dikuasai dalam waktu 3 hari. Siapakah dibalik kejadian itu, adalah Bung Tomo. Seorang komandan asli Arek surabaya yang memimpin serangan itu. Dalam serangan itu terkenal jargon yang diusung yaitu rawe-rawe rantas malang-malang mutung… dengan pekikan yang sangat lantang “ALLOHU AKBAR“
Tapi dibalik kegigihan beliau ini tahu ngga sih…. bahwa Bung tomo yang kita kenal itu ternyata belum diakui oleh negara sebagai seorang Pahlawan (aneh yah padahal hari pahlawan terinspirasi dari kejadian yg beliau pimpin). Beliau baru ditetap sebagai pahlawan tahun ini (2008)…. alasannya karena Pehlawan akibatnya Bukan Pahlawan… hhahahahahahah…
Itulah bedanya, pahlawan sekarang dan pahlawan dulu… kalau pahlawan dahulu tidak memperhatikan apa untungnya membela mati-matian, apakah nanti dapat julukan atau tidak itu bukan hal yang penting. Namun yang penting adalah keikhlasan beliau-beliau ini mempertahankan kehormatan bangsa tercinta. Sebagai seorang mukhlisin yang benar-benar terbukti kejujuran beliau-beliau ini.
Namun untuk sekarang, gelar pahlawan banyak orang yg mencarinya…. setiap orang unjuk gigi untuk menjadi pahlawan….Bahkah disaat-saat menjelang pemilu 2009 seperti ini ada indikasi untuk TIDAK menjadikan PAHLAWAN karena PEH LAWAN [jawa, red]. Banyak yg tiba-tiba memberikan sumbangan untuk masjid, perbaikan jalan, bahkan semen-semen gratis kepada mereka yg membutuhkan tetapi dengan embel-embel COBLOS LAH SAYA. Bahkan menyebar isu-isu negatif untuk menjatuhkan lawan dengan BLACK CAMPAIGN sehingga TIDAK MENJADIKAN PAHLAWAN PEH DIA LAWAN. Lihat saja kasus munculnya pansus Orang Hilang, kenapa kasus tersebut belum selesai juga sampai sekarang dan justru menguak kembali disaat-saat mau pemilu(lhaa kemaren ngapain saja…?) Aneh…..harusnya kasus itu sudah menghasilkan siapa yg bertanggung jawab atas hilangnya aktivis 98 di peristiwa semanggi sepuluh tahun yang lalu…. namun apa kenyataannya… sampai sekarang NOL. Kemanakah orang-orang yg hilang sekarang, dibunuh, disembunyikan… masih hidup atau sudah mati… ngga ada yg tahu….
Bicara soal keikhlasan teringatlah saya pada salah satu ayat dalam al qur’an yaitu Yaasiin:21
Attabiu man llaa as alukum ajron wahum muhtadun
( dibaca: atabiu malaa as alukum ajrouwahum muhtadun)
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Bahwa pahlawan itu mempunyai sifat ikhlas, dan tidak terbersit sebelumnya untuk meminta balasan. Itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk dari Alloh SWT dan orang-orang seperti itu yg pantas kita ikuti. Bukannya orang-orang yg memberikan kaos gratis, semen gratis atau sembako gratis yg kita ikuti.
Berbicara masalah Pemilu bicara pendidikan Politik (Politics Education), memang untuk hal yang satu ini indonesia masih butuh proses yg sangat panjang, kapan indonesia akan melek siapa yg dipilih?. Proses ini perlu waktu pen-tarbiyah-an (pendidikan) yang panjang, tidak semudah membalikkan telapak tangan begitu saja. Masyarakat tahunya yang memberi Sembako ya orang baik, yang memberi semen yaa orang baik apalagi kalau memberikan serangan fajar lebih baik lagi, yang tidak memberi ya… bukan orang baik.
Nah…Kalau begitu yang tidak ikhlas pahlawan apa? apakah pahlawan kesiangan yang lupa menyetel JAM WEKER sehingga kesiangan. heheheh…….. silakan tafsirkan sendiri….
Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimusholihat
