Bukankah kita lebih Cerdas daripada kecerdasan Buatan

Artificial Intellegent atau sering disebut dengan kecerdasan buatan seringkali menjadi sesuatu yg menarik untuk diamati. Kecerdasan buatan yang telah manusia kembangkan menghendaki sebuah kecerdasan yang terbentuk dari sebuah pola-pola latihan yang menjadikan mesin menjadi terbiasa menangani sebuah masalah.

Neuron yang mengilhami terbentuknya ilmu ini memang sungguh luar biasa. Error yang telah dihasilkan diolah dan diulang kembali menjadi sebuah nilai input yang selanjutnya akan diproses kembali sampai menemukan solusi yang paling optimal. Dalam ilmu Kecerdasan Buatan biasa dikenal dengan PERCEPTRON, BACK PROPAGATION, FUZZY dan sub ilmu lain. 

Akhir-akhir ini sering ada pembicaraan masalah SIRI (maksudnya bukan istilah yg biasa digunakan dalam permasalahan nikah) yaitu adalah aplikasi yang bisa menemani seorang pemilik HP yang selanjutnya dapat berinteraksi dengan HP yang dimiliki. Seolah-olah ketika pemilik ingin melakukan SMS maka cukup bilang ke mesin bahwa ingin menulis sms, selanjutnya mesin akan menjawab, bahkan sampai menuliskan pesan tanpa kita harus menulis SMS tsb dgn keypad/touchpad kita. Sungguh luar biasa, bagaimana voice dapat dikonversi menjadi sebuah text dan action-action tertentu. Adalah produk bawaan APPLE yang dapat diinstal software ini

Lihat Video ini

[youtube MKRwV3DTVLo SIRI]

atau coba lihat video ini, yang mengenali GESTURE yang disamakan dengan OBJECT, jadi sebuah benda dapat dibuat dengan suatu gerakan-gerakan tertentu, kita tidak perlu camera untuk sekedar memotret, namun cukup gunakan Tangan kita yang selanjutnya akan dikonversi menjadi object yang selanjutnya dapat memfoto, here we go

[youtube mzKmGTVmqJs]

Namun dibalik hal itu, apakah sebenarnya yg ingin ditunjukkan manusia? ya sebuah karya, sebuah existensi. Adalah suatu wujud fitroh manusia jika ingin diakui, dihargai. Ketika seseorang merasa tidak diakui maka akan bergeser kebentuk yang lain, adalah sebuah evolusi atau bahkan revolusi. Hal itu sampai kapan, sampai suatu titik konvergensi seseorang, sampai diakuinya seseorang. Lantas bagaimana jika tidak menemukan titik konvergensi tersebut, jawabnya hanya 2, menyerah(surrender) atau bertahan.

Jangan khawatir kawan,  manusia sejatinya adalah sebaik-baik ummat. Kehebatan manusia yang mampu menciptakan, memanipulasi dan mengadopsi sesuatu terkadang sering kali menjadikan manusia sebagai seburuk-buruk makhluk. Berbuat segala cara agar tercapai tujuan yang tdk seberapa. Manusia yang diberikan akal secara fisik adalah OTAK yang kemudian digunakan untuk berfikir, pastilah seharusnya lebih cerdas daripada sebuah processor Quad atau apapun buatan manusia itu. Kalau saat ini processor dalam Mega, mungkin otak manusia sudah dalam PENTA.

Kebesaran yang pencipta sungguh jauh lebih besar daripada hasil kreasi manusia yang kita lihat dari kemajuan teknologi, kemajuan ilmu dan kemajuan hal lainnya. Selamat berkarya kawan, dan ingatlah bahwa disana ada KARYA YANG LEBIH HEBAT daripada karya Anda.

 

Salam Hangat

~Win

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar